wisata

Jumat, 21 Januari 2011

Mimpi jadi Juragan Kaos lewat "NOFLAG.clothing"

Ini dia label clothing-ku



T-Shirt Pertama untuk Taman Maria Giri Wening
#price: 55.000 IDR
 Dapat dibeli di toko "Gracia", komplek "Goa Maria Sendang Sono"
#price: 55.000 IDR

"Iseng - Iseng Berhadiah" Sebagai Penulis

"Suatu ketika di hari minggu pagi saat sedang enak - enaknya tidur setelah semalaman begadang, saya terbangun gara - gara suara nada dering yang bersumber dari HP saya. Dengan agak malas dan setengah sadar karena kantuk, saya pun dengan terpaksa mengangkat telepon tersebut. "Oke mas saya akan datang, tapi status saya dolan dan nyantrik mas, bukan meliput" ucapku menutup pembicaraan.
Dalam percakapan byphone tersebut, sang penelopon meminta saya untuk hadir dalam acara pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh tim kerja Komsos paroki-nya. Selanjutnya saya pun bergegas memutuskan berangkat dari Klaten menuju Gereja Marganingsih, Paroki Kalasan, tempat berlangsungnya acara tersebut.
Sekedar diketahui, sang penelopon merupakan salah satu dari ratusan teman dalam situs jejaring sosial facebook. Dan herannya, saya pun baru satu kali bertemu, itupun tanpa sengaja saat sedang berada di salah satu Susteran yang terletak dilereng gunung Merapi. Dari situlah teman facebookers saya satu ini mengetahui kalau saya sebagai kontributor lepas majalah Utusan.
Sesampai disana saya pun langsung diajak menuju tempat berlangsungnya acara. ketika memasuki ruangan, rasa haru dan kaget menyelimuti suasana hati saya. Karena dari belasan anak yang mengikuti pelatihan Jurnalistik tersebut rata- rata PIR. Ironis dan sangat disayangkan, teman - teman kaum muda sebaya saya tidak nampak batang hidungnya sama sekali. Padahal yang memberikan materi adalah C. Ismul Cokro, salah satu penulis yang produktif menelurkan buku. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Doa Bagi Anakku”.
Dalam pelatihan tersebut mas Ismul, begitu dia biasa dipanggil, memotivasi peserta untuk belajar menulis sebagai sarana mewartakan iman dan kepercayaan kita terhadap Tuhan Yesus. Sebelum acara diakhiri,mereka semua melakukan sesi foto bareng dan saya pun tidak ingin melepaskan momen tersebut untuk mengambil foto.
Seusai acara, saya mengutarakan keinginan saya meng-copy modul dari pelatihan jurnalistik tadi. kemudian salah satu panitia bertanya dengan nada heran tentang keinginan saya tersebut. Lantas saya pun menyampaikan bahwa modul tersebut akan saya gunakan untuk belajar dirumah. Selanjutnya panitia tersebut pun berujar "loh bukannya anda ini wartawan, tapi entah kenapa masih ingin belajar??" Saya pun menanggapinya dengan perasaan malu mengatakan bahwa saya bukanlah wartawan. "Status saya cuma kontributor lepas dan masih belajar menulis". Setelah mendapat copy-an modul tersebut, saya pun pamit pulang.


Pencitraan diri lewat Facebook



 “Apa yang Anda Pikirkan?”. Sebuah kalimat pemancing yang menggambarkan suasana hati kita saat menuliskan dan membagikan “status facebook” kita ke orang lain.
Facebook memang sudah tidak asing bagi kita semua. Dari mulai selebritis, pejabat publik,biarawan sampai anak kecil sekalipun tersihir untuk menggunakan situs jejaring pertemanan dunia maya ini. Status yang ditampilkan pun beragam. Dari sekedar curhat colongan, suatu hal yang saat itu sedang dikerjakan, sampai informasi keberadaan saat berpergian. Dengan adanya fitur pendukung seperti foto,video maupun audio visual semakin menambah kesan facebook sebagai potret diri kita yang sebenarnya.
Sebagai mahasiswa D III jurusan Manajemen Informatika, berbagai hal yang berhubungan dengan computer dan perangkat lunak lainnya saya pelajari. Termasuk jejaring social dunia maya seperti facebook, friendster, twitter dan lain – lain, bukanlah hal yang baru bagi saya.
“Jangan – jangan ini semua karena status facebook waktu itu yang membanggakan diri bahwa tulisan saya pernah dimuat” pikir saya dalam hati ketika menduga “cap wartawan” yang diucapkan salah satu panitia tadi.



Awal Ketertarikan Menulis

Sedikit mundur ke belakang, ketertarikan saya menulis hingga menjadi kontributor lepas majalah Utusan adalah karena "iseng - iseng berhadiah". Awalnya dan sampai saat ini, sebagai mahasiswa yang ingin mendapat tambahan penghasilan. Saya pun memutuskan untuk bekerja sebagai loper majalah Utusan.
Seiring berjalannya waktu ketika mengambil jatah majalah yang akan diedarkan tiap bulannya. Tentu saja secara tidak langsung saya sering bertemu dan berbincang - bincang dengan awak redaksi dibalik terbitnya majalah ini.
"Ketika dalam kehidupan sehari - harimu menemukan sebuah pengalaman yang kecil dan mungkin tak berarti apa - apa, namun ketika kamu selami lebih dalam dapat bermakna dan menjadi inspirasi bagi orang lain" ujar salah satu redaktur menjelaskan makna dibalik slogan Utusan "Dalam Segala Mencari Dia". Dari situlah saya berkeinginan untuk mulai menulis.
Suatu hari, tanpa diduga salah satu artikel kabar berita saya pun dimuat. Perasaan bangga dan puas pun melanda. Selain itu sebuah penghargaan berupa tambahan uang jajan, semakin menambah motivasi saya untuk menulis.  “Soal dimuat atau tidaknya itu urusan belakangan, yang terpenting sekarang menulis dulu sebanyak - banyaknya” pikir saya dalam hati untuk memotivasi diri.
Ibarat anak kecil yang mendapat hadiah mainan, menulis bagi saya adalah mainan baru yang tak ingin saya lepaskan. Walaupun pada kenyataannya masih penulis pemula. Ada sebuah harapan pada diri saya di waktu yang akan datang, "cap wartawan" yang pernah disampaikan panitia tadi benar - benar melekat dalam diri saya.

Aditya Putra Wijaya

Senin, 12 Juli 2010

Salib TERBALIK St. PETRUS

Salib Santo Petrus (secara resmi dikenal sebagi Salib atau dalam bahasa sehari- hari Petrus Petrus's Cross) adalah salib terbalik latin tradisional yang digunakan sebagai simbol Kristen. Tetapi baru - baru ini juga digunakan secara luas dan salah serta menjadi kesalahpahaman awam sebagai simbol anti- Kristus. Simbolisme untuk anti- Kristus yang benar adalah salib terbalik dengan Tuhan Yesus Kristus jg digantung terbalik di salib tersebut.
        Asal- usul simbol ini berasal dari tradisi Katholik bahwa Santo Petrus disalibkan terbalik, seperti yang dikisahkan oleh Origen dari Alexandria. Hal ini diyakini bahwa Santo Petrus meminta bentuk penyaliban ini ketika ia merasa tidak layak untuk disalibkan dengan cara yang sama seperti Tuhan Yesus Kristus ketika mati (tegak). Dengan demikian, sebagian umat Katholik menggunakan salib sebagai simbol kerendahan hati dan tidak berharga dibandingkan dengan Kristus.
        Menurut Gereja Katholik Roma, Paus adalah penerus Santo Petrus sebagai Uskup Roma. Oleh karena itu sering diwakili oleh simbol- simbol yang juga digunakan untuk mewakili Petrus, salah satu contoh menjadi Kunci Surga ( the Keys to Heaven), selain Petrus Cross. Selama Paus Yohanes Paulus II melakukan kunjungan ke Israel, beliau selalu duduk dikursi dengan Salib Petrus memotong kebelakang.
         Sebagaimana dinyatakan dalam agama Katholik Roma, Salib St.Petrus tidak dilihat sebagai kekuatan setan dalam hal apapun.
Tulisan ini merupakan terjemahan dari Wikipedia. info lebih lanjut dapat disimak di web tersebut.

Minggu, 04 Juli 2010

PAMER (tulisan artikelku dimuat)

               Hahaha tak terkira tak terduga, ternyata salah satu tulisan artikelku dimuat juga dimajalah rohani "UTUSAN" edisi bulan Juli 2010 di halaman kabar dengan judul "Jangan Larut dalam Kesedihan". Artikel yang mengabarkan tentang kegiatan "Misa Taize 4th gempa", walaupun banyak yang diedit, tapi adit bangga juga hehhehe...
               Iseng- iseng belajar menulis, karena banyak banget agenda kegiatan gereja yang sring Adit ikuti, tapi cumu sekedar masuk di telinga kanan keluar telinga kiri dan hanya menjadi sebuah dokumentasi yang tersimpan di otakku. Next, untuk bulan agustus adit mencoba untuk nulis artikel lagi dengan tulisan yang memuat kedatangan Pater jenderal SCJ sedunia dari Portugal. semoga saja UTUSAN bulan Agustus dapat menampilkan tulisanku lagi hehe Selain jadi agen keliling, why not?? Adit belajar juga jadi kontributor beritannya. Katanya sih juga dapat "FEE" tambahan.
               Okok begitu tulisanku hari ini, "Jangan Pernah Takut untuk Mencoba Sesuatu yang Baru dan Jangan Takut Salah" hahhahha

Rabu, 23 Juni 2010

PaidToClick: PTC Penghasil Dolar dg Minimum Payout hanya US$ 0,1

PaidToClick: PTC Penghasil Dolar dg Minimum Payout hanya US$ 0,1

Pengen dapet dollar gratis tanpa modal and cukup klik aja pada iklan yang tersedia?? Lumayan neh, adit dah nyoba PTC ini dan udah 2x payout total semuanya 0,15$ masuk ke rekening https://www.paypal.com/id.  Maka adit coba share aja disini, sapa tahu ada yg berminat :)Caranya mudah kok,
Kunjung aja www.PaidToClick.in (klik disini)
Kemudian ikuti langkah² berikut ini:
1. Klik Join for free today
2. Masukin biodata, kalua dah lengkap klik Create Account
3. Chek email (di inbox/spam) temukan judul ‘Please Active Your Account’
4. Klik link yang diberikan via email itu untuk melakukan Verifikasi
5. Jika berhasil ada tulisan ‘Welcome to PaidToClick.in’
6. Catat dan Promosikan ‘Refferal Url’nya.
Biasanya seperti ini >>
Nah,
Sambil promosi dan nunggu teman kita ikut daftar juga,
*kerenya bisnis ini ngajak temenya ikutan sukses*
*jadi ga usah maen sikut²an spt bisnis lainya ;)*
Saatnya ngumpulin ‘recehan’ dolar-nya,
Silahkan login ke member area,
Klik menu Earning Area
Disana akan kita temukan berapa tawaran model iklan: ada yg baca iklan, klik link, baca email, daftar program dan lain², yang kesemuanya itu menghasilkan ‘pundi-pundi’ dolar.
Jadi?
Buruan daftar dan kumpulkan dolarnya ;)
Kunjungi >> www.PaidToClick.in (klik disini)
Yup,
Selamat berburu Dollar :)